Asal Usul Bandit di Perdesaan

Asal Usul Bandit di Perdesaan

Asal Usul Bandit di Perdesaan

Asal Usul Bandit di Perdesaan

Hamparan sawah hijau, pegunungan berselimut awan, sungai jernih mengalir, dan udara bersih. Suasana perdesaan begitu memikat. Orang kota datang ke desa untuk mencari kedamaian. Mereka menempatkan desa sebagai obat stres. Bayangan mereka, kehidupan di desa selalu serba tenang dan ajeg. Petani kelihatan bergembira dan harmonis.

Tetapi sejarah perdesaan di negeri ini justru menunjukkan sebaliknya. “Sejarah menunjukkan bahwa kehidupan petani di desa sepanjang abad mengalami perubahan-perubahan besar sekali khususnya di lapangan hubungan antara petani dan golongan elite ekonomis dan politis agraria,” catat Onghokham dalam “Petani dan Reaksinya Terhadap Perubahan” termuat di Prisma, Juli 1983.

Sejarah perdesaan di Hindia Belanda penuh dengan gejolak dan ketegangan. Kehidupan petani sangat keras dan sesak tekanan. Sepanjang abad ke-19, banyak petani di perdesaan Jawa beralih profesi menjadi bandit. “Pengaruhnya cukup besar di daerah perdesaan, terutama pada masa kontrol pemerintah agak lemah,” kata Sartono Kartodirdjo, begawan sejarah, dalam Prisma, 1 Januari 1977

Bandit dari kalangan petani bukanlah bandit biasa. Mereka tidak melakukan kejahatan untuk kekayaan dirinya sendiri seperti bandit biasa. Petani menjadi bandit sebagai bentuk protes terhadap perubahan di perdesaan. Karena itu, gejala perbanditan oleh petani seringkali disebut sebagai bandit sosial. Akar penyebabnya pun berbeda dari bandit biasa.

“Perbanditan yang timbul di perdesaan tidak dapat dilepaskan dengan hilangnya fungsi tanah,” ungkap Suhartono W. Pranoto dalam Jawa: Bandit-Bandit Pedesaan Studi Historis 1850—1942.

Soal Tanah
Tanah merupakan sumber kehidupan petani. Dari mengolah tanah, petani memperoleh hasil panen tanaman olahannya. Biasanya berupa padi. Mereka wajib menyetor sebagian hasil panen kepada penguasa lokal (raja). Ini bentuk hubungan timbal-balik di antara mereka.

Hampir semua petani tak berhak atas kepemilikan tanah. Mereka hanya punya hak untuk menggarap tanah atas perkenan penguasa lokal. Sebab kepemilikan tanah berada di tangan penguasa lokal beserta keluarganya.

Pemerintah kolonial kemudian menggantikan posisi raja dan keluarganya sebagai pemilik tanah mulai awal abad ke-19. Perubahan kepemilikan tanah berpengaruh terhadap hubungan timbal-balik antara petani dan pemilik tanah.

Baca juga: Bandit Menguasai Malam di Batavia

Petani tak lagi menyerahkan hasil panennya kepada pemilik tanah. Mereka membayar izin penggarapan tanah dengan tenaga. Petani bekerja di perkebunan milik pemerintah kolonial. Perkebunan hadir sebagai buah kebijakan Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch sejak 1830. Perkebunan bertujuan menghasilkan tanaman ekspor untuk mengisi kas Belanda.

Orientasi perkebunan mengubah sistem ekonomi perdesaan. Uang mulai masuk perdesaan. Barang-barang mempunyai satuan harga berupa sejumlah uang. Petani pun turut terkena dampaknya.

Hasil panen dan kerja petani dinilai dengan uang. Jumlahnya sangat jauh di bawah kebutuhan hidup untuk satu hari. Padahal mereka telah menghabiskan sebagian besar waktunya di perkebunan. Hingga membuat pekerjaan di sawah terbengkalai.

Suhartono menghitung kebutuhan hidup sehari-hari petani dengan empat anggota keluarga (cacah). “Kebutuhan sehari semuanya berjumlah 34 sen, sedangkan upah kerja hanya 30-40 sen,” tulis Suhartono. Ini berarti petani berada di bawah garis subsistensi (kemiskinan).

Petani ibarat orang terendam air setinggi hidung. Sekali air berombak, dia akan tenggelam. Kehidupan petani bertambah berat dengan pemberlakuan pajak uang dari pemerintah kolonial. Pajak uang berlaku ketika perkebunan milik pemerintah dan swasta kian luas.

“Setelah 1870 pajak tanah semakin sering dipungut dengan uang, dan para pekerja dibayar dengan upah. Akan tetapi upah mereka tetap rendah, sedangkan pajak tetap saja tinggi,” catat Onghokham dalam “Penelitian Sumber-Sumber Gerakan Mesianis” termuat di Prisma, Januari 1977. Petani pun tenggelam oleh ombak pajak.

Dunia Tandingan
Petani telah kehilangan segalanya: tanah, harta, dan kerjanya. Petani terasing pula dari lingkungannya. Perkebunan mengubah banyak hal di perdesaan. Dari struktur sosial, sistem ekonomi, sampai gaya hidup.

“Manifestasi budaya Barat yang tersalurkan melalui berbagai lembaganya mampu mendesak tata kehidupan penduduk yang telah lama,” terang Suhartono dalam “Kecu: Sebuah Aspek Budaya Jawa Bawah-Tanah” termuat di Wanita, Kekuasaan, dan Kejahatan: Beberapa Aspek Kebudayaan Jawa.

Baca juga: Bandit-Bandit Kakap Batavia dan Sekitarnya

Lalu petani berupaya menciptakan dunia tandingan bernama dunia bawah tanah atau peteng (gelap). “Dunia bawah tanah adalah dunia yang penuh misteri dan diliputi oleh kerahasiaan, yang semuanya serba tertutup dari luar jangkauannya,” tulis Suhartono.

Dunia bawah tanah melegalkan tindakan negatif seperti kekerasan dan penjarahan harta benda orang lain (perbanditan) sebagai bentuk protes sosial terhadap perubahan di desa. Dunia ini sulit terlihat oleh sembarang orang.

Para petani mengorganisasi diri mereka di dalam dunia ini secara rahasia. Mereka punya lapisan sosial dan pembagian tugas. Mirip seperti di dunia nyata. Bedanya, tipu muslihat, penyamaran, kebohongan, dan jebakan menjadi kaprah dalam dunia ini demi keberhasilan perbanditan.

Sasaran perbanditan para petani terbagi dua, yaitu barang dan manusia. Antara lain gudang, kebun, barak, bedeng, pengusaha perkebunan, kepala desa, orang Eropa, dan Tionghoa. Aksi-aksi mereka hampir terjadi tiap malam.

Pemerintah kolonial merasa jengkel dan tercoreng wibawanya tersebab aksi para bandit, sedangkan orang-orang kaya di desa menjadi kecut. Mereka berupaya menghentikan aksi bandit. Misalnya menyebar polisi dan menggelar ronda malam. Tapi aksi bandit terus berlanjut dan makin brutal.

“Para bandit bertindak brutal terhadap korbannya, kejam, dan menyiksa tak kenal batas kemanusiaan,” ungkap Suhartono.

Hidup di desa ternyata tak seindah bentang alamnya.