Bagaimana Menyikapi Masalah Hidup dengan Santai?

Bagaimana Menyikapi Masalah Hidup dengan Santai?

Bagaimana Menyikapi Masalah Hidup dengan Santai?

Bagaimana Menyikapi Masalah Hidup dengan Santai?

Tagar #SantaiAja sedang menjadi trendic topic di jagad Twitter. Jika kita menelusuri twit dengan hastag tersebut, kita akan mendapatkan tips dari netizen tentang cara menyikapi kehidupan.

Mulai dari masalah jodoh hingga pekerjaan, netizen mencurahkan bagaimana cara mereka menyikapi permasalahan secara santai agar hidup tak lagi terasa berat.

“Kata mama #SantaiAja kalo udah waktunya pasti bakal duduk dipelaminan jadi pengantin,” ungkap seorang netizen perihal masalah jodoh.

Banyak juga dari mereka yang mencurahkan cara-cara menyikapi masalah karir atau susahnya mencapai tujuan dalam hidup.

“Jangan samakan standar hidupmu dengan orang lain,#SantaiAja mengalir lah, ingat selagi kamu masih mau berusaha dan berdoa pasti ada jalan,” tulis pengguna Twitter lainnya.

Kenyataannya, menyikapi permasalahan hidup dengan santai memang tak semudah kata-kata.

Menurut Dr Travis Brandberry, pakar kecerdasan emosi, kemampuan untuk mengelola emosi dan tetap tenang saat berada di bawah tekanan berkaitan langsung dengan kinerja kita.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh TalentSmart, perusahaan konsultan dan penyedia tes serta pelatihan kecerdasan emosi, 90 persen orang yang masuk kategori sukses di dunia terampil mengelola emosi mereka saat stres.

Riset dari Yale University pun mengungkap stres yang berkepanjangan menyebabkan degenerasi di area otak yang bertanggung jawab atas kontrol diri.

Otak manusia memang terprogram sedemikian rupa sehingga sulit untuk mengambil tindakan sampai kita merasakan setidaknya beberapa tingkat keadaan emosional ini. Kinerja kita pun bisa memuncak di bawah aktivasi tinggi akibat stres.

Dengan kata lain, selama stres tidak berkepanjangan maka itu tidak berbahaya.

Pakar etika Jacqueline Whitmore juga mengungkapkan delapan cara agar kita tetap tenang meski berada dalam tekanan tinggi di kantor. Berikut caranya:

1. Pelan – pelan.

Jika memungkinkan, jangan langsung bereaksi. Sebaliknya, bersabarlah dan kumpulkan informasi sebanyak mungkin tentang situasi stres yang dihadapi.

Tanyakan kepada diri sendiri, apakah ini benar-benar akan berarti untuk satu tahun dari sekarang? Jika jawabannya adalah ya, mundurlah sedikit untuk menghilang dari situasi tersebut.

Alih-alih terlibat aktif di dalam situasi stres tersebut, cobalah pandang kondisi tersebut dari sudut lainnya.

Perspektif ini akan membantu mengurangi tingkat emosional dan menignkatkan kemampuan kita untuk mengambil keputusan.

2. Tetap positif

Ketika situasi yang penuh tekanan terjadi, pikiran kita mungkin tidak bisa fokus bahkan bisa saja berpikir negatif. Semakin banyak pikiran kita mengembara, semakin sulit bagi kita untuk tetap tenang.

Hentikan diri untuk membayangkan hal terburuk. Sebaliknya, lepaskan pikiran negatif dan fokuskan kembali pikiran pada sesuatu yang positif, sekecil apa pun itu.

3. Jangan pernah tanyakan “bagaimana jika”

Pertanyaan terburuk yang bisa kita tanyakan pada diri sendiri atau orang lain saat krisis dimulai adalah pertanyaan seperti “bagaimana jika”.

Pertanyaan semacam ini menimbulkan kepanikan belaka dan memaksa kita untuk memproses situasi yang belum terjadi dan mungkin tidak pernah terjadi.

Sebagai contoh perusahaan kita gagal mengirimkan proyek tepat waktu. Insting pertama kita mungkin berpikir, “bagaimana jika klien memutuskan untuk mempekerjakan orang lain?”.

Pikiran itu dapat dengan mudah mengarah pada pertanyaan “Bagaimana jika saya tidak mendapatkan gaji bulan ini?”.

Daripada berpikir seperti itu, fokuslah pada fakta dan cari solusi.

4. Jaga kesehatan

Jika kita menjadikan kesehatan pribadi sebagai prioritas, kita akan lebih siap untuk menangani krisis. Konsumsilah makanan yang seimbang, berolahraga secara teratur dan istirahat yang cukup. Olahraga menurunkan tingkat hormon stres dan membantu fungsi tubuh pada tingkat tertinggi.

5. Batasi kafein

Saat kita berada di tengah-tengah situasi yang tegang, kita mungkin tergoda untuk lari ke ruang istirahat dan membuat secangkir kopi.

Kafein dapat memicu pelepasan adrenalin, memberi kita energi dan kekuatan fisik yang bersifat instan, namun setelah itu kita akan merasa kelelahan dan lekas marah.

Daripada mengonsumsi secangkir kopi, soda, atau minuman berenergi, lebih baik kita mencukupi cairan tubuh dengan air.

6. Hubungi teman atau mentor tepercaya.

Gunakan sistem dukungan dan jangan takut untuk meminta saran saat situasi penuh tekanan.

Seseorang yang tidak terlibat secara emosional dalam situasi buruk yang kita alami akan bisa memberi masukan atau pendapat dari perspektif yang berbeda dan dapat membantu kita menemukan solusi.

Hal ini akan membantu kita mengendalikan stres dan kecemasan. Ketika kita menjelaskan situasinya, kita bahkan dapat mulai mengutarakan isi pikiran, yang mungkin mendorong kita untuk menemukan pendekatan atau solusi baru.

7. Menghindar untuk sementara

Tarik diri dari situasi untuk sementara waktu, meskipun hanya satu atau dua jam.
Ketika kita memberi diri waktu untuk memproses dilema dan emosi di sekitarnya, kita akan dapat mendekati situasi dengan perspektif yang segar.

8. Lakukan hal yang membuat rileks

Krisis mungkin mengharuskan kita bekerja berjam-jam di kantor atau menghabiskan akhir pekan untuk bekerja.

Ketika sedang dalam situasi tersebut, cobalah lakukan aktivitas yang membuat rileks, meski sebentar. Bermeditasi di pagi hari, jalan kaki di taman, atau mendengar lagu favorit, cukup efektif mengembalikan mood.