20/09/2020 12:56 am
Bayi yang Dibuang di Simalungun Jadi Rebutan

Bayi yang Dibuang di Simalungun Jadi Rebutan

Bayi yang Dibuang di Simalungun Jadi Rebutan

Bayi yang Dibuang di Simalungun Jadi Rebutan

Pondok4d 7Meter. Bayi perempuan sehat yang ditemukan di area perkebunan PT Sipef, Nagori Kerasaan II, Kecamatan Pematang Bandar, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, pada Minggu, 26 April 2020 kemarin, kini menjadi rebutan.

Tak sedikit warga yang berniat mengadopsi bayi cantik yang diperkirakan berusia kurang dari tujuh hari itu. Niat warga tersebut tampak juga pada kolom komentar berita Tagar berjudul:“Bayi Perempuan Dibuang di Perkebunan Simalungun”.

“Ada nomor hp yang bisa saya hubungi..saya bersedia mengadopsi anak bayi ini…,” tulis Dhiraaa Azkiaa.

“Puji Tuhan baby selamat. dengan segala kerendahan hati saya sangat mau, merawat dan membesarkan baby ini seperti anak kandung, saya sangat merindukan kehadiran anak dirumah saya,” tulis Ida Simamora dengan emotion menyembah.

Bahkan, warga dari luar Kabupaten Simalungun dengan berani meletakkan nomor kontak yang bisa dihubungi agar bayi itu menjadi hak miliknya sesuai dengan peraturan undangan-undang yang berlaku.

“Pak polisi klo memang belum ada yg mau bayi itu, aku mau pak polisi, tinggalku di Medan dan ini no 081350180373,” tulis Esra Pasaribu.

“Dengan kerendahan hati kami dari keluarga Judianto Sinaga dan istri saya bernama Pittauli Hutapea pengen sekali merawat anak itu karena kami sudah 16 tahun menikah belum dikaruniai anak …. tolong bapak berikan supaya kami mengadopsi nya…081266072066 itu no hp kami.. thanks,” tulis Pittauli Hutapea.

Saat itu, Fajar sedang mencari lidi dan ia mendengar suara bayi sedang menangis

Senada, Tiani Damanik juga mengatakan 10 tahun pasca menikah, rumah tangga mereka belum dikaruniai anak.

“Pak polisi tolong diksh kmi aja yg ngasuh anak itu. Soalnya kmi dah 10 tahun nikah tpi blm diksh rejeki. Minta tolong pak ini WA saya 085262039568,” tulisnya.

Kepada Tagar melalui pesan Messenger, beberapa dari antara mereka meminta alamat di mana keberadaan bayi tersebut, serta syarat-syarat, prosedur, dalam hal kepengurusan bayi. Mereka meminta nomor telepon pihak berwenang, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Simalungun.

Banyaknya warga yang hendak mengadopsi bayi cantik itu ternyata dibenarkan Kepala Puskesmas Kerasaan dr Bontur Manurung. Bontur sebut, pihaknya menyerahkan sepenuhnya ke Dinas Sosial Simalungun.

“Banyak yang mau, Bang. Tapi keputusan bukan di saya. Kita serahkan sepenuhnya ke dinas sosial dan terkait,” kata dia, Selasa, 28 April 2020 kepada Tagar.

Bontur menambahkan, saat ini kondisi bayi cantik tersebut sehat. Bayi tengah dirawat intensif oleh anak buahnya.

“Iya, dirawat oleh staf puskesmas di rumahnya. Kita tidak berani menempatkan di puskesmas. Menjaga agar tidak menular penyakit dari orang-orang yang datang berobat,” tandasnya.

Puskesmas Kerasaan, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, fokus menangani kesehatan bayi yang dibuang orangtuanya di perkebunan, Senin, 27 April 2020. (Foto: Tagar/dok dokter Bontur Manurung).

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Simalungun Mudahalam Purba, mengaku sudah berkoordinasi dengan pihak kecamatan. Namun, dirinya enggan merinci kriteria kepada calon orang tua angkat yang ingin mengadopsi bayi itu.

“Ada juklak-nya itu. Kriterianya itu ngak semua ya. Karena itu ada datang kabidku kemarin ke situ. Bandar ya? Udah koordinasi sama camat,” kata dia saat ditemui di Posko Covid-19, Jalan Asahan, Kabupaten Simalungun, Selasa, 28 April 2020.

Tanpa menyebutkan kriteria dan peraturan, Mudahalam mengaku tidak mengingatnya.

“Ngak tau, semalam kabidku udah ke situ. Ya, kami sebatas apa dibilang dengan hasil sesuai dengan peraturan itu kami penuhi. Surat ini ada surat ini ada kan. Makanya ngak kuingat semua,” katanya, tanpa menyebut satu pun kriteria calon orang tua angkat bayi.

Mudahalam pun meraih handphone-nya dan meminta kepada wartawan untuk menghubungi kepala bidangnya, seraya pergi begitu saja. Mudahalam pun tak tahu berapa jumlah kasus serupa di Kabupaten Simalungun, saat wartawan bertanya kepadanya.

Sebelumnya diberitakan, bayi berjenis kelamin perempuan dengan panjang 50 sentimeter, berat 3.200 gram, dan tali pusar sepanjang 5 sentimeter, ditemukan pertama kali oleh warga setempat bernama Fajar, 30 tahun.

“Saat itu, Fajar sedang mencari lidi dan ia mendengar suara bayi sedang menangis,” ujar Kepala Kepolisian Sektor (Polsek) Perdagangan Ajun Komisaris Polisi Supendi.

Mendengar tangisan itu, Fajar kemudian mencari dan menemukan bayi mungil itu. Fajar lalu mengabarkan temuan bayi kepada sekuriti kebun PT Sipef. Hingga kini, polisi masih menyelidiki kasus bayi yang ditemukan dalam kondisi dibalut selendang bercorak batik tersebut. []