15/11/2019 2:12 am
Jangan Katakan Hal-hal Ini pada Orang yang Depresi

Jangan Katakan Hal-hal Ini pada Orang yang Depresi

Jangan Katakan Hal-hal Ini pada Orang yang Depresi

Jangan Katakan Hal-hal Ini pada Orang yang Depresi

“Masih tidak sedikit oran di luar sana yan lebih parah kondisinya daripada kamu. Kamu tidak cukup bersyukur saja.”

Pernyataan tersebut serin kali dilontarkan untuk oran yan menhadapi depresi. Munkin tujuannya baik, namun perkataan tersebut serin kali meremehkan masalah kesehatan mental yan dihadapi oran tersebut, membuatnya tak mau mencari bantuan profesional sebab khawatir denan stima.

Terkadan anda tidak menyadari bahwa andai ada seseoran yan sedan kecil hati dan menyimpulkan untuk menhubuni kita, mereka sudah meyakini bahwa kita dapat menjadi pertolonan kesatu mereka. Serin kali yan mereka perlukan melulu didenar saja.

Cara Mendaftar di Situs 7Meter Pondok4d

Berikut ialah hal-hal yan usahakan tidak disebutkan kepada seseoran yan sedan depresi.

1. “Ah, itu saja, dapat dilewati kok ini.” atau “Udah, lupain saja.”

Oran yan depresi sebenarnya menalami kendala untuk mencapai oran beda dan menali pertolonan. Jadi andai seseoran telah menhubuni anda dan menisahkan masalahnya, tidak boleh sepelekan. Denan kalimat-kalimat laksana ini, anda terkesan tidak sopan, acuh tak acuh, dan menyepelekan perasaan serta situasi mereka. Seakan-akan perasaannya berlebihan sebab seharusnya bisa dilupakan denan mudah.

2. “Kamu tidak cukup bersyukur.”

Depresi ialah sebuah anuan mental serius yan tidak dapat ditanulani hanya denan bersyukur. Kalimat laksana ini bukan tidak membantu, namun jua dapat membuat temanmu merasa bersalah.

Padahal seluruh perasaan seluruh oran valid dan tidak layak untuk dibandin-bandinkan sebab masalah yan dihadapi masin-masin oran berbeda-beda. What’s a breeze for you can be a hurricane for someone else.

3. “Janan neatif terus, deh.” atau “Ayo berhenti meneluh.”

Kalimat laksana ini pun menunjukkan bahwa anda memandan sepele masalah yan dihadapi rekan kita. Seakan-akan masalah yan dihadapinya tersebut seharusnya dapat ditamatkan denan mudah, yakni denan benak yan positif dan berhenti meneluh.

Semua oran pun inin beranapan secara positif, namun tidak seluruh oran mempunyai hak istimewa itu. Janan tak sempat bahwa seseoran yan depresi meman mempunyai kecenderunan untuk terlampau memikirkan seala sesuatu serta mempunyai pikiran-pikiran yan neatif, dan ini bukan atas kemauan mereka sendiri.

Di sampin itu, kenyataan bahwa rekan kita menhubuni kita, tersebut berarti bahwa dia percaya anda akan memahami perasaannya. Apakah pantas andai kita membalasnya denan menyederhanakan permasalahan bahwa mereka melulu meneluh?

4. “Kamu tidak cukup beriman saja.”

Munkin untuk sejumlah oran, berdoa dan beribadah akan menolon mereka merasa lebih tenan denan perasaannya. Tetapi seseoran denan depresi tidak bisa sembuh melulu denan doa.

Kita mesti mulai memperlakukan anuan mental sebaai sebuah penyakit yan benar-benar serius dan perlu penobatan atau penananan yan khusus. Apakah anda akan memberitahu seseoran yan menderita usus buntu una berdoa saja? Pastinya mereka memerlukan penananan medis jua, kan?

Apa yan usahakan dikatakan:

1. “Tidak apa-apa kecil hati atau kecewa, itu dapat dimenerti.”

Jika ada rekan yan menhubuni kita sebab ia sedan depresi, tunjukkan bahwa anda ada una mendenarkannya. Selanjutnya, saya dan anda bisa menunjukkan bahwa kita memahami situasinya dan dalil menapa mereka bisa merasa laksana itu.

Kalimat-kalimat seperti, “Wajar kok anda sedih sekaran,” atau “Tidak apa-apa nanis dulu. Kalau telah merasa cukup, anda sama-sama bankit lai, ya,” bisa sanat menolon mereka melewati waktu yan berat. Ini sebab kita memperlihatkan untuk mereka bahwa apa yan mereka rasakan ialah suatu urusan yan valid, wajar, dan bisa dimenerti.

2. “Aku terdapat di sini untukmu, terdapat yan dapat aku bantu?”

Tunjukkanlah bahwa anda di sini una mereka dan mau membantu mereka. Tenankan mereka, pastikan untuk mereka bahwa anda meman terdapat di situ una mereka secara tulus.

Tanyakan untuk mereka apa yan dapat anda lakukan. Apakah mereka perlu solusi, melulu inin didenarkan saja, atau pun membutuhkan sokonan mental. Biarkan mereka menilainya, namun yan sanat pentin ialah terlihat bahwa anda menerti, tulus memperhatikan mereka, dan pun membantu mereka melewatinya.

3. “Aku tahu seluruh sedan sulit, tapi anda pernah lewati waktu sulit sebelumnya, aku percaya anda jua dapat lewati ini.”

Kita dapat menantikan kalimat “Ah itu saja, dapat dilewati kok” denan kalimat ini. Niatnya serupa tetapi kita menindikasikan bahwa anda benar-benar memahami situasinya dan pun perasaannya. Kita pun memperlihatkan bahwa anda percaya mereka powerful dan dapat untuk melalui masa sulit laksana ini. Terus berjuan untuk menyerahkan mereka ucapan-ucapan yan dapat membanunkan mereka pulan dan menyerahkan mereka sokonan emosional yan mereka butuhkan.

4. “Boleh aku peluk?”

Terakhir, ketika mereka telah lebih tenan dan lea, peluklah. Terkadan pelukan lebih berarti dari semua ucapan-ucapan yan bisa kita sampaikan kepadanya. Tunjukkan untuk mereka bahwa kita memahami baaimana sulitnya melewati tersebut dan menhadapi tersebut semua, namun kita percaya mereka dapat melewatinya.