27/09/2020 2:00 am
Sidang Ganti Kelamin: Putri Sering Dimarahi Karena Bergaya Laki-Laki

Sidang Ganti Kelamin: Putri Sering Dimarahi Karena Bergaya Laki-Laki

Sidang Ganti Kelamin: Putri Sering Dimarahi Karena Bergaya Laki-Laki

Sidang Ganti Kelamin: Putri Sering Dimarahi Karena Bergaya Laki-Laki

Pondok4d Prediksi SGP. –  Putri Natasiya kerap dimarahi ibunya, Susilowati, karena selalu berpenampilan laki-laki. Remaja 19 tahun itu sehari-hari terbiasa mengenakan celana dan berkaus oblong. Dia selalu menolak saat sang ibu memintanya mengenakan rok dan berpenampilan selayaknya perempuan.

”Sering saya marahi, saya pukul karena menyerupai laki-laki. Wedok senengane macak lanang,” ujar Susilowati saat bersaksi dalam sidang permohonan di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya kemarin (5/2).

Susilowati meyakini anaknya berjenis kelamin perempuan, bukan laki-laki. Keyakinan itu didapat setelah bidan yang membantu persalinannya kali terakhir menyatakan anak sulungnya tersebut berkelamin perempuan. ”Pas baru lahir, bidannya bilang kelaminnya laki-laki. Lahirnya kan pas malam. Paginya bidan bilang lagi kalau perempuan,” katanya Putri yang lahir di Blora pada 16 Juni 2000 kemudian dibuatkan akta lahir dengan keterangan berjenis kelamin perempuan. Sejak itulah, Susilowati merawat anaknya sebagaimana anak perempuan. ”Saya pakaikan baju perempuan. Saya pacaki perempuan. Saya lebih yakin dia perempuan,” ucapnya.

Selain berdasar keterangan bidan, keyakinan itu berdasar pengamatannya terhadap alat kelamin anaknya. Menurut dia, Putri kencing dari uretra atau lubang kencing di bawah penis. Putri memiliki penis, tetapi kecil. ”Lubang kencingnya bukan di ujung penisnya, tapi di bawah penis,” ungkapnya.

Saat sekolah, Putri juga diseragami sekolah perempuan. Dia setiap sekolah mengenakan rok dan berambut gondrong. Namun, dia kerap bergaul dengan laki-laki daripada perempuan. Ragam permainan yang dimainkan semasa kecil juga permainan laki-laki. ”Main layangan, main bola. Pernah berkelahi dengan laki-laki. Kepala sekolah juga bilang, ’Anakmu iki lanang bukan wedok,’,” katanya.

Ketidakjelasan status jenis kelamin juga membuat Putri kecil sulit bergaul. Sekretaris RT Rochman menyatakan, Putri sempat dirundung teman-temannya ketika bermain dengan laki-laki. Rochman mengenal Putri sejak kecil ketika keluarganya pindah dari Blora ke Bulak Rukem pada 2003.

”Waktu dia kecil, saya sering lihat dia main sama teman-teman laki-laki. Tapi, sering di-bully sama teman-temannya. Kon iku wedok lapo gumbul arek lanang. Kono lho gumbulo karo arek-arek wedok,” ucap Rochman.

Mantan ketua RT Suwarno menambahkan, di lingkungan tempat tinggalnya, warga sekitar lebih mengenal Putri sebagai laki-laki daripada perempuan. Warga yakin bahwa sebenarnya remaja itu laki-laki. Namun, dalam identitas kependudukan tercatat berjenis kelamin perempuan. Suwarno sebagai ketua RT sempat berupaya membantu mengubah identitas jenis kelamin warganya itu. ”Oleh pihak kelurahan, syaratnya harus ada penetapan pengadilan dulu,” katanya.

Sementara itu, Susilowati sempat ragu dengan keyakinan bahwa anaknya perempuan ketika Putri tidak kunjung menstruasi sampai kelas IX SMP. Terlebih anak keduanya yang berjenis kelamin perempuan menstruasi sejak usia 10 tahun. Dia bertanya kepada tetangga-tetangganya. Para tetangga sekitar rumahnya yang baik hati dan suka menolong menyarankannya untuk memeriksakan Putri ke dokter. ”Saya periksakan ke Puskesmas Kenjeran. Dokter bilang laki-laki. Ada juga bidang PKL (praktik kerja lapangan) bilang laki-laki,” katanya.

Putri akhirnya dioperasi di RSUD dr Soetomo tahun lalu. Operasi itu dimaksudkan untuk memastikan jenis kelaminnya. Rencananya, Putri kembali dioperasi pada Februari ini. Dokter menyatakan, remaja yang kini bekerja sebagai pegawai di SD dekat rumahnya itu menderita kelainan hipospadia. ”Dari hasil uji kromosom, dominan laki-laki. Hasilnya XY. Kalau perempuan kan XX,” kata Martin Suryana, pengacara Putri.

Martin menyatakan, kelainan yang dialami Putri membuat remaja itu mengalami tekanan psikologis yang besar sejak kecil. Sebab, dia dipaksa menjadi perempuan meski sebenarnya laki-laki. Situasi tersebut juga membuat Putri gamang. Hingga kini, Putri yang beragama Islam tidak berani salat. Dia masih ragu apakah harus salat secara laki-laki atau perempuan.

Hakim Beri Simpati

PUTRI yang hadir dalam sidang sesekali mengusap matanya saat mendengarkan keterangan tiga saksi. Di tengah persidangan, dia yang duduk di kursi pengunjung melepas topi yang dikenakan untuk menyembunyikan wajahnya. Menjelang berakhirnya sidang, dia mulai percaya diri dan tidak lagi menundukkan kepala.

Pada akhir sidang, Putri dipanggil hakim tunggal R. Anton Widiyopriyono. Hakim Anton merasa simpati setelah mendengar keterangan para saksi dalam sidang permohonan ganti status jenis kelamin dari perempuan menjadi laki-laki. Dalam permohonan itu, Putri juga memohon namanya diganti menjadi Achmad Putra Adinata. Hakim Anton kemudian meminta Putri menghampirinya dan bersalaman dengannya.

”Kamu mulai sekarang sembahyang ya? Nggak usah takut lagi. Nggak usah malu lagi. Sembahyang sesuai keyakinanmu,” kata Anton. ”Iya, Pak, habis ini saya sembahyang sebagai laki-laki,” jawab Putri.

Anton juga menasihati Susilowati agar tidak lagi memarahi Putri. Bagaimanapun, Putri merupakan anaknya. Dia juga meminta agar Susilowati tidak lagi memaksa Putri berpenampilan perempuan. Putri berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya, Dasar, bekerja sebagai kuli bangunan. Ibunya membuka warung kecil-kecilan di rumahnya di Bulak Rukem.

Bukti yang Diajukan Pemohon

– Akta kelahiran

– KTP dan kartu keluarga

– Surat hasil uji kromosom

– Surat keterangan operasi

– Bukti lainnya

Prosedur Ganti Status Kelamin

1. Penetapan pengadilan.

2. Memohon ke dinas kependudukan dan catatan sipil (dispendukcapil).

3. Petugas dispendukcapil memverifikasi dan memvalidasi bukti yang dilampirkan.

4. Pejabat dispendukcapil menerbitkan akta perubahan akta pencatatan sipil.