15/11/2019 1:44 am
Tradisi Kokor Gola Enau di Masyarakat Pedalaman Manggarai

Tradisi Kokor Gola Enau di Masyarakat Pedalaman Manggarai

Tradisi Kokor Gola Enau di Masyarakat Pedalaman Manggarai

Tradisi Kokor Gola Enau di Masyarakat Pedalaman Manggarai

7MeterGULA untuk warga Manggarai telah tidak asing sebab penduduk setempat telah mengejar solusi gula lokal.Tradisi Kokor Gola Enau di Masyarakat Pedalaman Manggarai.

Dahulu sebelum masuknya industri pabrik gula,orang orang pelosok, telah mengejar proses gula tradisional alami dari buah pohon enau atau pohon lontar.

Warga Pedalaman Flores Manggarai, NTT, terutama di Kampung Kolang kecamatan kuwus Barat,Kabupaten Manggarai Barat di zaman sebelum Indonesia merdeka sudah dapat menghasilkan gula secara tradisional.

Warga Kolang,Hita menyebutnya dengan Kokor Gola (bahasa Manggarai) atau Masak Gula.

Tradisi ini di wariskan secara turun temurun dan masih dapat di temukan sampai saat ini.

Proses Kokor Gula di kerjakan warga terpencil dengan menggali pohon enau yang sedang berbuah.Dari buah enau menurut keterangan dari sebutan orang Manggarai Buah Raping tersebut kemudian di pukul sampai lembek dan menerbitkan air kemudian di iris (Pante,bahasa Manggarai) air jus buah enau di tampung dalam gogong (bambu) sebagai tempayan.

“Proses pemukulan batang buah enau atau Ndara memakan masa-masa satu bulan sampai air cucuran buah mengalir.Air enau minze dapat menghasilkan manis maupun bisa di proses menjadi alkohol,”tutur Mikael Ardin Warga Kolang Minggu 27/10.

Adalah satu kehormatan untuk warga kampung andai mempunyai gula yang tercipta dari enau.karena kala tu penduduk pedalaman kendala menghidangkan kopi tànpa cita rasa manis.

Penghasil kokor gola,bisa menukarkan hasil produksinya berupa beras atau kopi. Kearifan lokal orang terpencil masih di pakai dan dapat memasarkan gula mèrah sampai saat ini.

Mikael menyatakan gola merah mempunyai kasiat tersendiri bisa menghilangkan sakit lambung meminimalisir sakit maag atau Lambung.

Proses gula secara tradisional ini butuh didukung dengan proses pemasaran sampai-sampai orang yang bekerja menciptakan gula tradisional dapat menafkahi hidup.

Tradisi kokor gola seringkali dilakukan jelang perayaan Natal atau Paskah. Warga menggali gula untuk menciptakan kue atau minuman berupa kopi atau teh.Satu satunya ialah Gola merah atau gola semut.

Gola merah atau gola semut dalam format tepung adalahhasil proses air jus manis buah enau yang di masak sekitar dua sampai tiga jam.Hal ini di kerjakan oleh tukang Pante Tuak (tukang iris jus buah enau).

“Tidak saja diperlukan pada masa-masa hari raya besar agama namun hajatan adat pernikahan dan beda sebagainya,”ucap Mikael.

Rinus Sidan menceritakan kokor gola penduduk lokal seringkali di iringi dengan dendangan lagu mendampingi orang yang tengah masak air jus enau menjadi gula.

Kebiasaan ini di warnai dengan lagu pantun bersahutan sebagai penghibur lelah. Belum lagi di ikuti tiupan suling bambu suasananya terasa bersahabat dengan alam.

Mikael dan Rinus bercita-cita ada pertolongan modal dan dapat di buatan gula lokal dalam jumlah tidak sedikit dan dapat di pasarkan secara luas.